Kai Havertz menegaskan “London masih merah” setelah Arsenal meraih kemenangan 2-1 atas Chelsea di Emirates Stadium, Minggu (7/9/2026) malam WIB. Pernyataan itu muncul di akun media sosialnya usai laga, yang memperlihatkan mantan pemain Chelsea kini menjadi bagian penting bagi Arsenal.

Pertandingan berjalan dramatis sejak menit awal. Chelsea sempat memimpin cepat lewat gol kejutan Morgan Rogers pada menit kedua, tetapi Arsenal bangkit dan tampil agresif hingga membalikkan keadaan melalui kontribusi Havertz dan Martin Odegaard.
Jalannya pertandingan
Chelsea mengejutkan tuan rumah sejak awal dengan aksi cepat Morgan Rogers yang berhasil menaklukkan kiper pada menit kedua, membawa tim tamu unggul lebih dulu. Namun setelah kebobolan, Arsenal meningkatkan intensitas permainan; lini depan dan sayap menjalankan peran menekan untuk memaksa kesalahan lawan.
Upaya Arsenal membuahkan hasil pada menit ke-25 ketika Kai Havertz berhasil menyamakan skor menjadi 1-1. Gol penyama itu mengubah dinamika pertandingan: tuan rumah semakin percaya diri, sementara Chelsea berusaha meredam gelombang serangan lawan.
Peran Havertz dalam kebangkitan Arsenal
Havertz tampil sebagai figur sentral dalam kebangkitan Arsenal. Selain mencetak gol penyama, pergerakan dan keputusannya di kotak penalti lawan menjadi pemicu berulangnya ancaman bagi pertahanan Chelsea. Aksi-aksi Havertz tidak hanya terlihat pada momen gol, tetapi juga dalam upaya membuka ruang bagi rekan-rekannya.
Setelah skor 1-1, Arsenal terus menekan dan pada babak kedua, tepatnya menit ke-50, Martin Odegaard memastikan kemenangan dengan memanfaatkan umpan mendatar dari Christos Tzolis. Sebelum umpan itu, Havertz sempat melakukan gerakan tipu (dummy) yang membingungkan lini belakang Chelsea, memberi Odegaard kesempatan untuk menyodok bola masuk ke gawang.
London masih merah: Pernyataan Havertz
Usai laga, Havertz menuliskan pernyataan singkat di media sosial: “Pertandingan yang luar biasa.” Ia juga menegaskan bahwa “London masih merah”, menegaskan kebanggaan atas kemenangan Arsenal di laga derby ibu kota tersebut. Pernyataan itu mendapat perhatian khusus karena Havertz pernah membela Chelsea sebelum bergabung ke Arsenal.
Pernyataan tersebut mencerminkan suasana setelah laga, ketika para pemain Arsenal dan suporter merayakan hasil positif di kandang sendiri. Bagi Havertz, momen itu juga menegaskan bahwa transisinya ke kubu lawan tidak mengurangi antusiasme atau komitmennya terhadap tim barunya.
Detil gol dan kontribusi pemain lain
Morgan Rogers membuka skor untuk Chelsea lewat tembakan kejutan pada menit kedua, memanfaatkan situasi yang cepat dan tak terduga. Gol itu membuat Arsenal harus merespons dengan cepat, dan respons itu datang melalui tekanan kolektif yang akhirnya menghasilkan gol Havertz pada menit 25.
Gol penentu berasal dari kerja sama yang melibatkan Christos Tzolis, yang mengirim umpan mendatar kepada Odegaard. Aksi dummy yang dilakukan Havertz sebelum umpan tersebut menjadi momen kunci karena mengacaukan marking lawan dan memberi ruang bagi Odegaard untuk menyelesaikan peluang menjadi gol pada menit 50.
Implikasi hasil bagi kedua tim
Kemenangan 2-1 di Emirates jelas menjadi malam penting bagi Arsenal dan para penggemarnya. Bagi Chelsea, kekalahan dini lewat gol cepat diikuti kebobolan kembali setelah Arsenal mengatur ulang permainan menjadi bahan evaluasi. Sementara itu, Arsenal mendapatkan dorongan moral dari hasil dan cara mereka bangkit setelah tertinggal.
Secara individual, penampilan Havertz akan menjadi sorotan berkelanjutan, baik karena kontribusi gol maupun pernyataannya pascalaga. Bagi penggemar sepak bola di ibu kota, pernyataan “London masih merah” menambah bumbu emosional pada rivalitas yang tak lekang oleh waktu antara kedua klub.
Meski hanya satu pertandingan di awal musim, hasil ini berpotensi memberi momentum bagi Arsenal. Pertandingan berjalan ketat dan menunjukkan betapa rapat persaingan di tingkat tertinggi sepak bola Inggris, terutama ketika derby ibu kota mempertemukan dua tim dengan sejarah dan ambisi besar.
