Kriteria Ballon D Or menjadi salah satu perhatian utama dalam pembahasan ini. Pengumuman terbaru tentang aturan pemilihan Ballon d’Or menempatkan kinerja individual sebagai faktor utama. Pernyataan resmi yang diunggah beberapa pekan setelah final Piala Dunia mengingatkan jurnalis pemilih bahwa performa per pemain harus dinilai terlebih dahulu sebelum melihat koleksi gelar.

Perubahan ini bukanlah pengaturan baru untuk edisi 2026; organisasi yang mengelola penghargaan sudah merombak regulasi pada 11 Maret 2022. Namun, pengulangan aturan tersebut setelah turnamen besar memberi petunjuk penting tentang cara hasil voting sebaiknya ditafsirkan menjelang penghargaan tahun depan.
Kriteria Ballon D Or dalam Sorotan
Menurut aturan yang diberlakukan sejak 2022, urutan penilaian tertulis secara jelas: pertama adalah “penampilan individu serta karakter yang menentukan dan mengesankan”; kedua baru “kinerja kolektif dan trofi”; dan terakhir adalah kelas permainan serta fair play. Unsur karier jangka panjang pemain dihapus dari daftar penilaian. Artinya, para pemilih diminta menimbang prestasi individu dan momen menentukan sebelum memberi bobot pada trofi yang diraih tim.
Periode penilaian yang baru dan dampak Piala Dunia 2026
Sikap ini makin penting karena periode yang dinilai bukan lagi tahun kalender melainkan musim olahraga lengkap, dari Agustus hingga Juli. Dengan begitu, Piala Dunia 2026 masuk utuh dalam jangkauan penilaian Ballon d’Or 2026. Jadwal teknisnya juga sudah jelas: daftar 30 calon pria dan 30 calon wanita akan dipublikasikan pada 8 September 2026, pemungutan suara dimulai sejak saat itu, dan gala penyerahan dijadwalkan pada 26 Oktober di London.
Kenapa momen besar jadi lebih bernilai?
Contoh kasus: Rodri, Mbappé, dan arti statistik besar
Musim 2025/26 menghadirkan contoh kontras. Rodri menjadi juara dunia bersama Spanyol dan mendapat pengakuan resmi sebagai pemain terbaik turnamen oleh FIFA: ia bermain dalam delapan laga, dan pada final melawan Argentina menyelesaikan 101 dari 105 operan, memenangkan 80% duel serta menciptakan dua peluang—sebuah representasi penampilan individu yang sangat menentukan. Di sisi lain, Kylian Mbappé tidak memenangkan Piala Dunia atau Champions League, tetapi ia mengumpulkan angka impresif: Sepuluh gol dalam delapan laga Piala Dunia (membuatnya menjadi peraih Sepatu Emas turnamen) dan 15 gol dalam 11 laga di Liga Champions sebagai pencetak terbanyak kompetisi itu.
Nama lain yang bisa diuntungkan oleh penilaian individual
Beberapa pemain dari kompetisi antar-klub juga menunjukkan performa individual yang menonjol. Khvicha Kvaratskhelia mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik UEFA setelah membantu PSG merebut gelar dengan catatan sepuluh gol dan enam assist dalam 16 pertandingan, serta kontribusi penting di fase gugur. Vitinha dipilih sebagai pemain terbaik final oleh UEFA berkat kemampuannya mengendalikan lini tengah dan mengarahkan permainan. Ousmane Dembélé, yang mencetak gol penyama pada final tersebut dan menjadi salah satu pencetak gol teratas Piala Dunia dengan enam gol dan dua assist, juga memiliki argumen kuat di bawah kriteria performa individu.
Selain itu, ada pemain seperti Fabián Ruiz yang memadukan gelar juara Liga Champions dan Piala Dunia, serta Lamine Yamal yang dinobatkan sebagai pemain terbaik LaLiga 2025/26 setelah mencetak 16 gol dan 12 assist sambil mengantar Barcelona menjadi juara. Masing-masing kasus akan ditimbang berdasarkan keseluruhan musim termasuk penampilan di level klub dan tim nasional.
Momen penentu: contoh Ferran Torres
Pengingatan yang dikeluarkan beberapa pekan lalu jelas ingin menegaskan filosofi penghargaan: Ballon d’Or adalah penghargaan individual. Dengan Piala Dunia dan Liga Champions yang dipenuhi aksi-aksi individu menentukan, bagaimana jurnalis menimbang kriteria itu kemungkinan besar akan menjadi faktor penentu dalam penetapan pemenang pada 26 Oktober 2026.
